Ber-KB Untuk Meringankan Biaya Hidup dan Pendidikan
Diakoni FM - Diakoni FM
P.Siantar - N boru Rumahorbo (30), warga Kelurahan Kahean mengaku mengikuti program KB dengan pertimbangan biaya hidup dari hari ke hari semakin tinggi termasuk biaya pendidikan.
"Saya dan suami sepakat untuk memiliki anak dua saja karena bercita-cita menyekolahkan anak sampai perguruan tinggi. Kebetulan anak kami sudah lengkap, satu laki-laki dan satu perempuan,"lanjutnya.
Program KB yang digunakan pasangan ini adalah suntik, tetapi kemungkinan akan melakukan operasi wanita ( MOW) agar menjadi permanen.
Zainal Siahaan, Kepala Kantor Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (PP2KB) P.Siantar menjelaskan, pasangan usia subur (PUS) menjadi target, yakni ibu sampai batas umur 35 tahun yang telah memiliki anak dua atau tiga.
Menurutnya, menjadi akseptor KB harus melalui kesepakatan bersama dalam keluarga antara suami dan istri termasuk memilih program KB yang digunakan. Kesepakatan itu penting karena menyangkut keharmonisan hubungan suami-istri pasca memutuskan mengikuti program KB.
"Kebanyakan pasangan memilih minum pil anti hamil atau menjalani suntik secara periodik karena dirasakan lebih nyaman dan aman. Jika pasangan memutuskan untuk memiliki anak kembali dapat menghentikannya,"jelasnya.
Tetapi selain itu, masih banyak pilihan yang dapat digunakan untuk menghentikan reproduksi termasuk yang permanent seperti MOW (Operasi Untuk Wanita), MOP (Operasi Untuk Pria), kondom, implant dan IUD.(MJS)
"Saya dan suami sepakat untuk memiliki anak dua saja karena bercita-cita menyekolahkan anak sampai perguruan tinggi. Kebetulan anak kami sudah lengkap, satu laki-laki dan satu perempuan,"lanjutnya.
Program KB yang digunakan pasangan ini adalah suntik, tetapi kemungkinan akan melakukan operasi wanita ( MOW) agar menjadi permanen.
Zainal Siahaan, Kepala Kantor Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (PP2KB) P.Siantar menjelaskan, pasangan usia subur (PUS) menjadi target, yakni ibu sampai batas umur 35 tahun yang telah memiliki anak dua atau tiga.
Menurutnya, menjadi akseptor KB harus melalui kesepakatan bersama dalam keluarga antara suami dan istri termasuk memilih program KB yang digunakan. Kesepakatan itu penting karena menyangkut keharmonisan hubungan suami-istri pasca memutuskan mengikuti program KB.
"Kebanyakan pasangan memilih minum pil anti hamil atau menjalani suntik secara periodik karena dirasakan lebih nyaman dan aman. Jika pasangan memutuskan untuk memiliki anak kembali dapat menghentikannya,"jelasnya.
Tetapi selain itu, masih banyak pilihan yang dapat digunakan untuk menghentikan reproduksi termasuk yang permanent seperti MOW (Operasi Untuk Wanita), MOP (Operasi Untuk Pria), kondom, implant dan IUD.(MJS)
- Diakoni FM
- Berita
- dibaca 1047x
- [0] komentar




Lombok Utara (Suarakomunitas)-Pansus terawangan DPRD KLU menolak kedatangan pihak PT WAH dalam agenda pertemuan yang rencananya akan mendegarkan ketererangan-keteraangan
Coba kita tarik pandangan ke dunia luar sebentar.. Lompatan besar yang sangat cepat (lompatan quantum) selalu ada pada pemimpin-pemimpin yang agresif dan penuh ide-ide kreatif. Lihat beda Cina sekarang
MATARAM – Ratusan warga peserta Kongres Sukma (Sunda Kecil : Bali, NTB, NTT, Maluku dan Maluku Utara), meluncurkan website Talasukma (Tata Kelola Sukma), Rabu (23/5) di lokasi 
-t.jpg)


