Kunker DPRD Ke Batam ‘Belajar‘ Soal Sampah
P.Siantar - Anggi, Salah seorang warga Jalan SKI mengatakan, sebutan Siantar adalah Kota Adipura tidak wajar lagi disandang kota ini. Karena, sekarang kota ini sudah dibanjiri tumpukan sampah dan rawan menyebarkan penyakit muntah menceret (munmen) dan diare.
"Kota Siantar yang sebelumnya pernah mendapat penghargaan Adipura tahun 2006-2008, kini tidak layak lagi mendapatkan penghargaan seperti itu. Saat ini, sangat memalukan kondisi kota ini," katanya.
Yang diherankannya, DPRD tidak bisa mengambil sikap tegas untuk mencari jalan keluar atau pun memanggil Camat. "Mengapa mereka harus berangkat ke Batam hanya untuk membicarakan soal kebersihan, sementara memanggil Camat saja tidak mampu,"paparnya
Sementara anggota DPRD lainnya, Rudi Wu mengatakan, pada rapat LKPj kemarin, mereka sudah memanggil seluruh camat. Mereka sudah membicarakan masalah kebersihan di setiap kecamatan. Sayangnya, masih ada camat yang tidak hadir khususnya camat yang wilayah kerjanya sedang bermasalah dengan kebersihan dari sampah.
Baru baru ini Komisi I melaksanakan kunker ke Batam. Dalam kesempatan itu, DPRD membicarakan tentang cara penanggulangan kebersihan kota di Kota Batam. Jika ilmunya sudah didapat, akan langsung diterapkan di Kota Siantar.
Walaupun keberadaan sampah di Siantar kian hari meresahkan, tidak membuat niat DPRD Siantar segera menanggulanginya. upaya pemanggilan camat, seperti yang mereka ucapkan dua pekan lalu, tidak terlaksana. Malah, mereka kembali berjanji memanggil camat setelah kembali dari studi banding soal kebersihan ke Batam. [MJS]
- Diakoni FM
- Berita
- dibaca 1393x
- [0] komentar




Lombok Utara (Suarakomunitas)-Pansus terawangan DPRD KLU menolak kedatangan pihak PT WAH dalam agenda pertemuan yang rencananya akan mendegarkan ketererangan-keteraangan
Coba kita tarik pandangan ke dunia luar sebentar.. Lompatan besar yang sangat cepat (lompatan quantum) selalu ada pada pemimpin-pemimpin yang agresif dan penuh ide-ide kreatif. Lihat beda Cina sekarang
MATARAM – Ratusan warga peserta Kongres Sukma (Sunda Kecil : Bali, NTB, NTT, Maluku dan Maluku Utara), meluncurkan website Talasukma (Tata Kelola Sukma), Rabu (23/5) di lokasi 
-t.jpg)


