Mengangkat Kembali Budaya Banyumasan
Banyumas, pada masa lalu merupakan wilayah administratif Karesidenan,
yang terdiri dari Kabupaten Banyumas, Cilacap, Purbalingga, dan
Banjarnegara. Pada empat Kabupaten ini, tampil dalam sebuah komunitas
budaya yang cukup ekstrem bila dibandingkan dengan eks
karesidenan-karesidenan lain di Jawa Tengah.
Pertama,
dari segi bahasa, Banyumas memiliki bahasa indie Banyumasan. Orang
“wetanan” sering mengolok-olok sebagai bahasa ngapak-ngapak. Karakter
Banyumas yang didominasi dengan huruf a dengan bacaan a (berbeda dengan
Jawa keraton yang penulisannya a tetapi dibaca o, misalnya sega, saka, tela, lara, dsb).
Kecuali ucapan, juga kosa kata yang memang khas milik Banyumas seperti kata nyong (saya), rika (kamu), kencot (lapar), reheng (haus), maning (lagi), egun (masih), mbokan (barangkali), ngempos (istirahat), jidhor (biarkan), jodong (mati), kerah
(bertengkar), dan sebagainya yang puluhan ribu jumlahnya (terima kasih
kang Ahmad Tohari yang telah bersusah payah membuat kamus Banyumasan).
Krama ngoko
Kedua, akibat pengaruh bahasa yang cekak aos, pengucapan sama dengan penulisan, berarti apa adanya, maka berpengaruh terhadap attitude (sikap), behavior (perilaku) serta habitus (kebiasaan). Komunikasi antar teman lebih terasa akrab, dan dengan orang yang perlu penghormatan tidak harus dengan krama inggil (bahasa halus) tetapi cukup dengan krama ngoko (penggunaan krama hanya untuk kata kerja dan atau menyebut organ tubuh lawan bicara, misalnya; uwis rampung nggone dhahar? Jam pitu deneng egun sare? Astane si abuh kenang apa?).
Secara estetika mungkin tampak kasar dibanding Kedu, Semarang, apalagi
Surakarta dan Yogyakarta, tetapi sesungguhnya itu menujukkan orang
Banyumas lebih terbuka, lebih demokratis, transparan dan tidak banyak
basa basi.
Ketiga, dalam bidang kesenian, Banyumas
memiliki kekayaan yang tiada tara dalam hal jenis dan jumlahnya. Mulai
dari angklung, calung, paksimoi, rodad, kuntulan, ebeg/embeg (kuda
kepang), sampai wayang kulit pun Banyumas memiliki gagrak tersendiri,
baik dari musik pengiring (gending), antawacana, suluk, bahkan juga
cerita dan karakter penokohan.
Keempat, pakaian identitas
Banyumas memiliki corak tersendiri sendiri, baik beskap, kain,
blangkon, maupun asesoris lainnya. Demikian juga untuk batik,
model-model yang berkembang di Banyumas sangat menonjol perbedaannya
dengan daerah lain. Secara filosofis, dari pakaian yang ditampilkan,
orang Banyumas lebih egaliter, lebih merakyat, jauh dari tradisi feodal.
Secara geografis barangkali karena Banyumas jauh dengan keraton
Surakarta maupun Jogjakarta sehingga lebih banyak membangun budaya
sendiri yang lebih massif.
Kelima, perbedaan dengan daerah
lain juga terdapat dalam bentuk bangunan (arsitektur) asli Banyumas
yang sering disebut gaya limasan. Di masa kini, ketika rumah-rumah
Spanyolan banyak dibangun sampai ke desa-desa, tentu saja bangunan asli
Banyumas semakin berkurang. Tetapi sesungguhnya, Banyumas memiliki
bentuk arsitektur tersendiri.
Keenam, dari aspek kuliner,
di Banyumas memiliki aneka makanan yang bukan saja lezat tetapi juga
khas. Tempe kripikik, mendhoan, gethuk goreng Sokaraja, dan dhawet ayu
Banjarnegara adalah nama-nama makanan/minuman yang tidak asing lagi bagi
kebanyakan orang bukan saja Jawa Tengah, tetapi juga Indonesia.
Daftar keistimewaan Banyumas masih bisa diperpanjang, dengan mengangkat
aspek historis misalnya, Banyumas telah memberikan sumbangan yang cukup
signifikan dalam perjuangan kemerdekan Republik Indonesia. Panglima
Besar Jendral Soedirman adalah kelahiran Banyumas. Sedangkan dari aspek
sumber daya alam, Banyumas memiliki pelabuhan bebas Cilacap yang
menjadi penghubung Jawa Tengah Selatan dengan daerah-daerah dan Negara
lain. Dari pariwisata Banyumas memiliki Dieng, Baturaden, Benteng
Pendem Cilacap, pantai Teluk Penyu, serta obyek wisata artifisual
seperti Taman Rekreasi Seruling Mas di Banjarnegara dan Owabong di
Purbalingga.
Kongres Banyumas
Sayangnya,
akhir-akhir ini dirasakan sekali betapa rendahnya apresiasi warga
Banyumas terhadap kekayaan yang dimiliki. Sebagian minder menggunakan
bahasa Banyumas tatkala bertemu dengan komunitas lain. Lebih-lebih dalam
penggunaan pakaian, benar-benar hampir punah.
Menyadari akan
kekayaan budaya yang amat berharga itu, kiranya perlu menjaga dan
mengangkat kembali kebudayaan secara massal dan sistematis. Kongres
Banyumas adalah salah satu alternatif untuk mengangkat kembali pamor
kebudayaan yang ada. Kongres mengagendakan pembahasan tentang penjagaan
dan perawatan (konservasi) serta pengembangan (inovasi) dari semua aspek
atau anatomi budaya.
Siapa penyelenggaranya? Siapapun yang
peduli pada kekayaan Banyumas. Bisa pemerintah daerah, bisa Dewan
Kesenian, bisa individu-individu penggiat budaya, bisa ornop/LSM,
perguruan tinggi, bisa pula lembaga lain seperti media massa. Tetapi
paling ideal Kongres diselenggarakan secara sinergi dari semua stakeholder dalam masyarakat.
Dalam
forum ini, diundang para pakar dan budayawan untuk membahas topik-topik
utama, sementara peserta diupayakan melibatkan semua penggiat,
pemerhati, peminat, peneliti dan pelaku budaya Banyumas. Akhir Kongres
diharapkan melahirkan sejumlah rekomendasi dan agenda aksi untuk
dilaksanakan.
Inilah bagian dari langkah konkret untuk
mengangangkat kembali kebudayaan Banyumas. Budaya Banyumas adalah
kekayaan. Tanpa langkah konkret, kelak kekayaan Banyumas akan tergilas
oleh arus globalisasi. Kita tidak ingin kebudayaan Banyumas menjadi
fosil sejarah yang hanya ditemukan dalam museum yang sepi pengunjung.
(Oleh Hadi Supeno, Budayawan, Mantan Wakil Bupati Banjarnegara)
- Shakti FM
- Artikel
- dibaca 1550x
- [0] komentar




Lombok Utara (Suarakomunitas)-Pansus terawangan DPRD KLU menolak kedatangan pihak PT WAH dalam agenda pertemuan yang rencananya akan mendegarkan ketererangan-keteraangan
Coba kita tarik pandangan ke dunia luar sebentar.. Lompatan besar yang sangat cepat (lompatan quantum) selalu ada pada pemimpin-pemimpin yang agresif dan penuh ide-ide kreatif. Lihat beda Cina sekarang
MATARAM – Ratusan warga peserta Kongres Sukma (Sunda Kecil : Bali, NTB, NTT, Maluku dan Maluku Utara), meluncurkan website Talasukma (Tata Kelola Sukma), Rabu (23/5) di lokasi 
-t.jpg)


