Ketika Caleg Bertasbih
Oleh: Latifah Ulfa
“subhanallah.....subhanallah....”
Malam semakin larut. Jangkrik tak henti-hentinya saling meledek seakan-akan jenuh dengan keheningan malam.
“Belum tidur?” sapa seseorang dari balik pintu kamar, yang terbangun oleh suara jangkrik.
“Masih sanggup berahadapan dengan_Nya. Insya Allah sebentar saya tidur.” Jawaban yang membuat manusia lainnya iri dengan ketekunan seorang hamba kepada Tuhannya.
Ketika burung menyambut mentari, menandakan pagi telah tiba. Kokok ayam bersahutan membangunkan tuannya dan mengabari pada masyarakat agar segera menginjakkan kaki di bumi tempat mereka mencari nafkah. Aku terbangun tatkala caleg mengumandangkan adzan di dalam kamarnya, yang berukuran tiga kali empat meter yang bersebelahan dengan kamarku. Ya,tepatnya yang di batasi dengan tripleks.
Masyarakat yang menetap di kampung yang jauh dari kota ,hanya bisa mengandalkan ternak dan berkebun saja. Seperti biasanya, warga disini setiap pagi harus memberi makan ternak peliharaan mereka. Aku bangga mengenal kampung ini yang masyarakatnya tidak mengenal lelah.
“ujang....” Pak Rt memanggil ujang yang seharusnya ada dalam kandangnya, kini bermain di halaman rumah tuannya. Aku terhentak kaget ketika empat hari yang lalu pak RT bercerita kepadaku tentang si ujang yang berjasa. Di benakku Ujang adalah sosok laki-laki perkasa, yang selalu di banggakan oleh pak RT. Yup perkiraanku melenceng dari apa yang kuharapkan. Ternayta si pahlawan yang dibanggakan pak RT hanyalah seekor kucing jantan yang kini serumah dengannya.
Aku menerawang masuk melihat kedalam rumah, beraharap Caleg keluar dari kamarnya. Lama aku menunggunya hingga aku terbawa dalam lamunanku. Aku teringat dengan masa lalu yang ku jalani bersama Caleg.
***
“Leg, ayolah kita minum dulu sampai puas....” kataku pada Caleg di sebuah bar.
“Beres coy....,malam ini kita puaskan hasrat kita, gak cuma minum, tapi perempuan juga boleh...”
Suara Caleg dengan lantang disertai tawanya yang meledak. Aku dan Caleg memiliki kebiasaan yang sama. Sejak SMA kami selalu bersama. Semua kelakuannya, kebiasaanya, seluk beluknya sampai hal yang ia tidak suka, telah aku ketahui dan menjadi rahasia sebagai seorang sahabat.
“Coy, besok jangan lupa izin dulu sama orang rumah, kalau kita mau keluar kota.” Ucapnya dengan terbata karena mabuk. Coy, sebutan akrab buatku yang sering di ucapakan Caleg. Hampir tiap malam aku dan Caleg nongkrong di tempat billiard kota metropolotan ini. Caleg memang tajir. Ayahnya seorang pengusaha diluar negeri. Tak sama denganku, yang hidup cari makan saja susah. Mungkin aku beruntung bisa kenal dengan Caleg, yang tiap hari bawa mobil ke sekolah ketika SMA dulu. Sejak kenal sampai sekarang, semua yang aku makan dan yang aku pakai adalah biaya darinya.
“Coy...., besok kau harus bawa pacarmu ketempat ini.” Aku nggak pernah melihat kamu punya pacar. Kamu normal tidak sih?”
Caleg memang tidak pernah melihatku jalan dengan mekhluk yang bernama cewek. Sebejat-bejatnya aku, tapi aku masih tipe cowok yang setia. Aku tak ingin mempermainkan cewek, seperti yang di lakukan Caleg. Caleg memintaku menggandeng cewek ketempa billiard favoritnya. Entah rencana apa yang ia buat untukku. Tapi yang pasti, aku tak akan mengabulkan permintaannya yang satu ini.
“Leg, pulang yuk...! Capek banget nih..., eh nginapnya di hotel yah...!” pintaku memelas pada Caleg. Ia tersenyum menedakan setuju dengan ideku.
Di suatu hotel tempatku nginap, Caleg terlihat murung. Malam itu ia minum tapi tidak sampai mabuk. Baru kali ini aku melihat Caleg meneteskan air matanya. Hatiku bertanya tentang sahabatku yang satu ini. Apakah yang membuat ia risau? Aku mencoba mendekatkan diriku hendak menanyainya. Tapi ia melihat gerak-gerikku yang menandakan rasa keingintahuanku tehadap apa yang membuatnya menangis.
“Aku rindu apada Ibuku...!!!” suaranya nyaris tak terdengar. Ya, Caleg rindu pada ibunya. Manusia mana yang tak merindukan sosok seorang Ibu. Ibu caleg meninggal sejak ia masih duduk di bangku kelas 6 SD. Kecelakaan beruntun 8 tahun silam yang di alaminya menjadikan ia yatim. Sejak itu ia hanya merasakan kasih sayang seorang ayah, dan menjadi pewaris tunggal dari keluarga kaya raya.
Air mataku menetes membasahi pipku yang cabi. Mungkin aku masih beruntung, karena masih memiliki orang tua yang lengkap. Tapi mungkin orang tuaku tidak beruntung memilikiku, anak yang tak pernah mendengar ucapan ayah ibunya. Masih menerawang di pikiranku pesan ibu. “shalat paling diutamakan, jangan lupa ngajinya di teruskan sampai khatam.” Pesan yang amat mulia untuk anaknya.
Aku dan Caleg hampir tak pernah shalat. Kami hanya mengahbiskan waktu dengan sia-sia dan percuma. Bisa dibilang,shalatku cuma sekali seminggu,yakni setiap jum’at saja. Bahkan dalam setahun shalat kami berdua bisa di hitung dengan jari. Lingkungan dan pergaulanlah yang membawa kami seperti ini. Tak dapat di pungkiri. Apalagi Caleg yang kehilangan guru yang paling di sayanginya, Ibunya sendiri. Ayah yang sibuk keluar kota bahkan keluar negeri , menjadikan Caleg bertingkah semaunya. Semua yang di inginkan Caleg di berikan, asalkan Caleg kecil tidak merengek minta Ibunya kembali. Kadang kala Caleg membrutal seperti orng kesurupan jika ia berada di rumahnya. Ia tidak pernah dapatkan kebahagiaan dari keluarga besarnya. Semua serba uang, alias ada uang Caleg damai.
Malam itu Caleg merenung hingga mentari muncul dari balik jendela, yang ditutupi gorden tipis menembus dinding dan menyilaukan mata yang memandang.
“Hari ini kita mau kemana?” tanyaku menyelidik. “rasanya ingin mati saja, tapi perasaanku takut.” Jawabnya sambil tersenyum padaku dan akhirnya tawa mneledak antara kami berdua. Caleg adalah manusia biasa yang butuh akan kebahagiaan bathin. Meski hartanya bergelimang, ia tetap saja tidak bisa membeli kebahagiaan yang ia inginkan.
Caleg, ya....nama Caleg yang sekarang lagi tenar. Tapi bukan Caleg sahabatku yang suka berfoya-foya. Caleg yang satu ini hampir sama tingkahnya dengan sahabatku. Caleg yang ramai diburu orang harus mengahabiskan uang berpuluh-puluh juta untuk mendapatkan gelar Caleg. Sementara sahabatku Caleg, tak perlu keluar uang sepeserpun untuk mendapatkan nama itu. Nama itu ia dapat ketika pertama kali masuk SMA dulu. Ia hanya bercita-cita ingin jadi Caleg (calon legislatif). Padahal, jika hanya jadi calon, belum tentu terjamin. Ya..., Caleg sahabatku yang sebenarnya bernama Aditya Permana, manusia kaya akan harta tapi miskin dengan kebahagiaan.
“Aku ingin pergi dari kota ini. Aku ingin mencari kebahagiaanku sendiri.” Ucapnya.
“Bukankah selama ini kau bahagia dengan uangmu? Kau bisa bahagiakan dirimu dengan wanita dan berfoya-foya. Bukankah kau sudah bahagia jika memenuhi hasratmu?” tanyaku menerawangi hati dan pikirannya. Aku akui, harta bukan segalanya jika orang yang kita sayangi tak bersama kita lagi. Dan itu aku dapati dari sorot mata Caleg yang merindukan kebahagiaan dan kasih sayang seorang Ibu.
Kebisingan kota dan kehidupan malam menghantarkan kami pada kecelakaan yang tidak kami inginkan namun membawa berkah. Malam yang mencekam saat peristiwa itu terjadi. Balapan liar yang membuat aku dan Caleg jatuh terpelintir kelereng bukit, dan membawa kami ke kempung halaman ini.
***
“Nak..” Suara itu mengagetkanku dari belakang. Pak RT membangunkanku dari lamunan panjang membuatku salah tingkah.
“Caleg belum keluar Pak?” tanyaku hanya basa-basi.
“Sepertinya ia tertidur pulas habis shalat subuh. Dini hari tadi, bapak melihatnya masih berdzikir.anak muda yang shaleh.”
Anak muda yang shaleh. Kata itu sungguh tidak pantas untuk kami berdua, sungguh tidak pantas. Otakku terus berputar memikirkan Caleg yang tiba-tiba berubah. Aku sungguh tidak mengerti apa yang terjadi dengan Caleg. Caleg amnesia? Tidak. Sudah empat hari aku bersamanya di kampung ini setelah kecelakaan itu.
Aku senang jika Caleg berubah. Rasanya aku ingin membangunkan Caleg dari tidurnya dan mengabarinya bahwa aku sahabatnya, sungguh sangat bahagia jika ia betul-betul berubah. “mungkin Caleg mendapatkan ilham.” Kataku dalam hati. Aku lalu melangkahkan kaki menuju kamarnya hendak membangunkannya.
“Leg....bangun, sudah siang nih!” kataku membangunkan Caleg sambil mengetuk pintu dari luar .
“Mungkin masih tidur. Tadi subuh Ibu masih mendengarnya bertasbih.” Celetuk Ibu, istri pak RT dari arah dapur, seakan-akan tidak rela jika Caleg di bangunkan dari tidurnya.
Perlahan kubuka pintu kamarnya. Kudapati Caleg terbaring memegang tasbih. Aku hendak membangunkannya, tapi aku ingin memandangi wajah tampan sahabatku yang telah berubah, sebelum ia terbangun akan kehadiranku. Lama aku menunggu respon darinya. Wajahnya yang tampan kini berubah jadi pucat pasih. Hatiku bergeming. Aku memegang tangannya yang kini terasa dingin. Tanpa kusadari air mataku menetes, menetes, dan terus menetes.
Kini baru aku sadar, telah ku dapati Caleg terbaring kaku di pembaringannya dengan tasbih di tangannya.
***
Makassar, 11 Januari 2009
- Washilah FM
- Sastra
- dibaca 1368x
- [0] komentar




Lombok Utara (Suarakomunitas)-Pansus terawangan DPRD KLU menolak kedatangan pihak PT WAH dalam agenda pertemuan yang rencananya akan mendegarkan ketererangan-keteraangan
Coba kita tarik pandangan ke dunia luar sebentar.. Lompatan besar yang sangat cepat (lompatan quantum) selalu ada pada pemimpin-pemimpin yang agresif dan penuh ide-ide kreatif. Lihat beda Cina sekarang
MATARAM – Ratusan warga peserta Kongres Sukma (Sunda Kecil : Bali, NTB, NTT, Maluku dan Maluku Utara), meluncurkan website Talasukma (Tata Kelola Sukma), Rabu (23/5) di lokasi 
-t.jpg)


