Obyek Wisata Berlegenda Liang Boru Situmandi di Hutabarat Tarutung [2 selesai ]
Hotline Tapanuli FM - Hotline Tapanuli FM
Oleh: P.J.Manalu
Hari berganti hari, kedua orangtua Siboru Natumandi semakin bingung kenapa putrinya itu tidak suka kepada pemuda yang menjumpainya, padahal seluruh pemuda itu bukan pemuda sembarangan, tetapi tak satu orang pun diterima. Kadang hati kedua orangtua Siboru Natumandi sedih memikirkan itu, tetapi takut memaksakan kehendak, karena takut Siboru Natumandi tersinggung, sedih dan sakit hati. Sebab pada dasarnya marga Hutabarat sangat sayang dan baik terhadap anak perempuannya
.
Pendek cerita, sebagai kebiasaan sehari-harinya Siboru Natuman suka mencuci dan mandi (martapian) di sungai. Tanpa disadarinya seekor ular selama ini selalu memperhatikannya. Hari terus berlalu, akhirnya Siboru Natumandi didatangi seorang pemuda tampan dan berhasil meluluhkan hatinya sehingga jatuh cinta. Pemuda itu ternyata seekor ular
.
Lalu mereka berjanji akan melangsungkan pernikahan. Seterusnya pemuda itu diperkenalkan kepada kedua orangtuanya. Memang betul pemuda itu tampan dan memiliki kekayaan. Kedua orangtua Siboru Natumandi setuju. Suatu ketika mereka makan bersama sebagai tanda kegembiraan, lalu tiba-tiba pemuda itu menghilang begitu saja dan mereka melihat seekor ular. Pendek cerita tibalah waktunya untuk acara pesta kawin.
Ada beberapa persyaratan yang diminta Siboru Natumandi untuk dilaksanakan. Tetapi satu persyaratan itu kena langgar. Besok harinya, Siboru Natumandi bersama pemuda itu telah menghilang dari rumah, namun sesuai dengan perjanjian Siboru Natumandi, jika mereka tidak ada lagi di rumah sebaiknya mengikuti kulit padi yang ditaburkan sepanjang jalan
Kedua orangtua Siboru Natumandi bersama warga mengikuti jejak tersebut dan tibalah ke salah satu mulut gua di tepi Sungai Situmandi. Mereka tidak bisa masuk ke gua itu karena sempit gelap dan tidak berhasil lagi menjumpai Siboru Natumandi. Malamnya ayah Siboru Natumandi bermimpi putrinya itu mengatakan, “ada yang melanggar permintaannya.”
Atas kejadian itu, maka raja tersebut mengumpulkan raja-raja, penetua dan seluruh masyarakat Hutabarat untuk “martonggo” (bersumpah) supaya tidak akan pernah ada lagi boru Hutabarat (putri Hutabarat) yang cantik rupawan kalau jadinya kawin sama ular. Karena menurut cerita Siboru Natumandi adalah Boru Hutabarat.
Sekilas tentang cerita tersebut, bisa diyakini bisa tidak. Namun ada suatu makna cerita tersebut bahwa orangtua tidak memaksakan kehendak soal jodoh anaknya dan boru Hutabarat sebenarnya tidak sombong. Hanya saja sumpah leluhurnya dilanggar. Namun itulah yang menjadikan Liang Siboru Natumandi dijadikan salah satu objek wisata di Tarutung.
Kini objek wisata tersebut cukup ramai dikunjungi orang terutama saat hari libur. Banyak pengunjung yang datang ke tempat itu menyajikan “hadiah” ke liang itu berupa telur, daun sirih dan lain-lain. Saat ini untuk melihat langsung Liang Natumandi tidaklah sulit karena letaknya tidak jauh dari inti Kota Tarutung, hanya sekira 500 meter dari jalan besar simpang empat Hutabarat. ( selesai )
Hari berganti hari, kedua orangtua Siboru Natumandi semakin bingung kenapa putrinya itu tidak suka kepada pemuda yang menjumpainya, padahal seluruh pemuda itu bukan pemuda sembarangan, tetapi tak satu orang pun diterima. Kadang hati kedua orangtua Siboru Natumandi sedih memikirkan itu, tetapi takut memaksakan kehendak, karena takut Siboru Natumandi tersinggung, sedih dan sakit hati. Sebab pada dasarnya marga Hutabarat sangat sayang dan baik terhadap anak perempuannya
.
Pendek cerita, sebagai kebiasaan sehari-harinya Siboru Natuman suka mencuci dan mandi (martapian) di sungai. Tanpa disadarinya seekor ular selama ini selalu memperhatikannya. Hari terus berlalu, akhirnya Siboru Natumandi didatangi seorang pemuda tampan dan berhasil meluluhkan hatinya sehingga jatuh cinta. Pemuda itu ternyata seekor ular
.
Lalu mereka berjanji akan melangsungkan pernikahan. Seterusnya pemuda itu diperkenalkan kepada kedua orangtuanya. Memang betul pemuda itu tampan dan memiliki kekayaan. Kedua orangtua Siboru Natumandi setuju. Suatu ketika mereka makan bersama sebagai tanda kegembiraan, lalu tiba-tiba pemuda itu menghilang begitu saja dan mereka melihat seekor ular. Pendek cerita tibalah waktunya untuk acara pesta kawin.
Ada beberapa persyaratan yang diminta Siboru Natumandi untuk dilaksanakan. Tetapi satu persyaratan itu kena langgar. Besok harinya, Siboru Natumandi bersama pemuda itu telah menghilang dari rumah, namun sesuai dengan perjanjian Siboru Natumandi, jika mereka tidak ada lagi di rumah sebaiknya mengikuti kulit padi yang ditaburkan sepanjang jalan
Kedua orangtua Siboru Natumandi bersama warga mengikuti jejak tersebut dan tibalah ke salah satu mulut gua di tepi Sungai Situmandi. Mereka tidak bisa masuk ke gua itu karena sempit gelap dan tidak berhasil lagi menjumpai Siboru Natumandi. Malamnya ayah Siboru Natumandi bermimpi putrinya itu mengatakan, “ada yang melanggar permintaannya.”
Atas kejadian itu, maka raja tersebut mengumpulkan raja-raja, penetua dan seluruh masyarakat Hutabarat untuk “martonggo” (bersumpah) supaya tidak akan pernah ada lagi boru Hutabarat (putri Hutabarat) yang cantik rupawan kalau jadinya kawin sama ular. Karena menurut cerita Siboru Natumandi adalah Boru Hutabarat.
Sekilas tentang cerita tersebut, bisa diyakini bisa tidak. Namun ada suatu makna cerita tersebut bahwa orangtua tidak memaksakan kehendak soal jodoh anaknya dan boru Hutabarat sebenarnya tidak sombong. Hanya saja sumpah leluhurnya dilanggar. Namun itulah yang menjadikan Liang Siboru Natumandi dijadikan salah satu objek wisata di Tarutung.
Kini objek wisata tersebut cukup ramai dikunjungi orang terutama saat hari libur. Banyak pengunjung yang datang ke tempat itu menyajikan “hadiah” ke liang itu berupa telur, daun sirih dan lain-lain. Saat ini untuk melihat langsung Liang Natumandi tidaklah sulit karena letaknya tidak jauh dari inti Kota Tarutung, hanya sekira 500 meter dari jalan besar simpang empat Hutabarat. ( selesai )
- Hotline Tapanuli FM
- Artikel
- dibaca 2018x
- [0] komentar




JAKARTA, Suarakomunitas – Barisan Pemuda Adat Lombok – Sumbawa ( Baralosa) merupakan salah satu tamu special dalam konser Glenn Fredly di Senayan Fx Mall Jakarta pusat pada
Sesait,(SK),--Menjelang sore hari akan dilakukan persiapan Memajang atau Ngengelat yang akan dilaksanakan setelah sholat Asyar berjamaah sampai menjelang waktu sholat Magrib dan Isya
Sesait,(SK),--Kegiatan bisok menik (cuci beras) bukan sekadar membersihkan beras sebelum dimasak, namun memiliki makna sejarah.Lokasi bisok menik ini tidak pernah diubah sejak zaman
Medan (Suara Komunitas.Net) Keberadaan KPID Sumut ke depan tidak hanya berkutat kepada persoalan perizinan. Tapi harus direvitalisasi termasuk keberadaannya guna menggali berbagai potensi ekonomi daerah.
Medan (Suara Komunitas.Net) KPID adalah polisi moral dalam bidang penyiaran, karena itu kehadiran KPID diharapkan mampu mengawasi isi siaran lembaga penyiaran sehingga dapat meminimalisir dampak yang 

-t.jpg)
