Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Kecimol: Antara Tradisi dan Kontroversi Pendapat

 

Lombok Timur, SK - Acara pesta khitanan atau perkawinan, dalam bahasa Sasak disebut Gawe Bleq, identik dengan ngiring peraja. Biasanya ngiring peraja ini diiringi oleh alat musik kecimol. Anak-anak yang akan disunat (khitan) duduk di atas kuda-kudaan (peraja) yang terbuat dari bahan kayu pilihan. Kemudian dihiasi dengan pernak-pernik (ornamen) sehingga membuat peraja itu seakan hidup.

Peraja tersebut, biasanya dipikul oleh empat orang sambil bergoyang mengikuti irama musik yang dimainkan oleh musisi kecimol.


Kemudian, di belakang gerobak dorong tersebut bersama para musisi kecimol, dua hingga tiga orang penyanyi cilokak menyanyikan lagu beirama Sasak yang dimodifikasi dari lagu dangdut masa kini.

Mereka bernyanyi sambil berjoget ria layaknya artis papan atas. meskipun lagu yang dinyanyikan tidak seirama dengan musik yang dimainkan, namun mereka tetap semangat mengikuti perjalanan gerobak dorong.

Gerobak dorong ini dipenuhi oleh mesin dan sounsystem yang digunakan untuk menghibur mereka yang berjalan didepan sambil memikul buah-buahan seperti, pisang serta jenis jajanan lainnya untuk dibawa ke rumah yang punya hajatan sebagai hadiah untuk membantu meringankan bebannya.

Begitu pula halnya mereka yang mengiringi pengantin, disebut nyongkolan, tentu tidak terlepas dari alat musik yang bernama kecimol.

Namun, tidak semua masyarakat senang dengan kehadiran musik jalanan ini. Tidak sedikit pengguna jalan mengeluh karena dihadapkan dengan kemacetan jalan raya.

Yang lebih disayangkan lagi, kecimol kadang tidak peduli waktu kapan saatnya harus menabuh gendang. Ketika adzan magrib berkumandang dari corong masjid sekitar, seharusnya mereka menghentikan musiknya lalu sama-sama ke masjid untuk melaksanakan sholat.

Fenomena seperti inilah seharusnya menjadi perhatian pemerintah setempat. Pemerintah sebaiknya harus membuat aturan yang jelas kepada pelaku musik kecimol. Misalnya, pemerintah desa bisa membuat perdes atau awik-awik (aturan adat) sebagai alat kontrol.

Kita tidak bisa menyanggah, tawuran yang sering terjadi pada anak-anak muda masa kini akibat dari kurangnya kontrol pemerintah terhadap menjamurnya musik kecimol.

Tidak sedikit anak-anak muda ikut terseret karena goyang erotis yang dimainkan oleh penyanyi kecimol. Hal ini tentu bisa merusak moral generasi penerus kita. Apalagi banyak anak di bawah umur ikut menonton goyangan tersebut.

Lebih parahnya lagi kawula muda sebelum ikut berjoget, mereka terbiasa untuk minum tuak, sejenis minuman keras lokal, yang dimaksudkan agar mereka tidak kaku ataupun ragu untuk berjoget bersama jangger (perempuan) yang memang disiapkan untuk menarik perhatian kaum adam.

Akhirnya di luar kesadaran, mereka saling senggol dan akibatnya terjadilah perkelahian antarmereka. Lalu dalam hal ini, siapakah yang bertanggung jawab? (Fikri)

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.09085 seconds.