Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Ini Ciri - Ciri Untuk Kenali Berita Hoax Berita

Jakarta (SK), Maraknya peredaran informasi bohong (hoax) membuat pemerintah hingga masyarakat resah. Pasalnya berita bohong yang sengaja dibuat dan disebarkan oleh pihak-pihak tertentu dapat mengancam kesatuan dan persatuan Indonesia. Terlabih lagi jelang pelaksanaan pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2018 dan Pemilu 2019 mendatang, diprediksi berita hoax akan kembali mencuat.

Irjen. Pol. Setyo Wasisto, dalam Forum Promoter 2018 Polri, bertema Polri Serius  Tangani Hoax Penyebab Retaknya Persatuan dan Kesatuan Indonesia, mengatakan bahwa informasi bohong sangat mengancam keutuhan NKRI. Oleh sebab itu perlu ditangani dengan serius agar tidak ada pihak yang dirugikan.  “Hoax dampaknya luar biasa, menimbulkan perpecahan atau perperangan antar saudara,” ujar Setyo di Jakarta, Senin (24/4)

Menurutnya maraknya berita hoax itu disebabkan adanya permintaan dari pihak tertentu kepada orang yang cerdas namun jahat. Sementara dampaknya begitu luar biasa manakala berita yang diproduksi oleh hoaxer disebarluaskan oleh orang baik namun tidak memiliki pengetahuan cukup. Oleh sebab itu dia meminta agar masyarakat untuk tidak mudah menyebar informasi yang didapatkannya tanpa melakukan klarifikasi atau pengecekan terlebih dahulu.

“Kita terima pesan dari Wa (Whatsapp) dari teman atau orang tua kita, itu langsung dishare kembali ke orang lain, sebab dianggapnya kalau informasi itu dari orang terdekat sudah pasti benar. Padahal tidak sepenuhnya seperti itu,” pungkasnya.

Sementara di tempat yang sama Direktur Layanan informasi Internasional Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik (IKP), Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Selamatta Sembiring, mengatakan penyebaran informasi sesat lebih banyak dilakukan melalui jaringan sosial media. Sebanyak 1,2 persen melalui saliran radio, 3,1 persen melalui email, 5 persen melalui media cetak, 8,7 persen melalui media TV, 34,9 persen melalui situs web, 62,8 persen melalui aplikasi chatting dan 92,4 persen melalui media sosial.

“Pada lini massa Twitter di Indonesia memiliki tingkat tertinggi dalam penyebaran isu berita hoax yakni 104.375 cuitan. Sementara di Amerika Serikat sebanyak 68.494 cuitan padahal Amerika sebagai negara pengguna twitter terbanyak di dunia,” kata Selamatta.

Untuk mengetahui cirri-ciri berita hoax, dia membeberkan beberapa trik diantaranya, informasi yang diciptakan bertujuan untuk menciptakan kecemasan, kebencian, permusuhan (fear arousing). Kemudian apabila ditelisik ternyata sumber tidak jelas dan tidak ada yang bisa dimintai tanggung jawab atau klarifikasi (whispered propaganda). Selain itu berita hoax bersifat sepihak, menyerang dan tidak netral atau berat sebelah (one-sided).

Ciri lainnya, masih Selamatta, isi berita mencatut nama tokoh berpengaruh dan cenderung  memanfaatkan fanatisme atas nama ideologi, agama, suara rakyat. Kemudian judul dan pengantarnya profokatif dan tidak cocok dengan isinya. Lalu ada upaya permintaan supaya dishare atau diviralkan.

“Artikel yang ditulis biasanya menyembunyikan fakta dan data serta memelintir pernyataan narasumbernya. Berita ini biasanya ditulis oleh media abal-abal. Media yang tidak jelas alamat dan susunan redaksi,” pungkasnya. (Jodins Sadewo)

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.08947 seconds.