Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Kepemimpinan Transformasional Pilihan Penting Berita

Medan (Suara Komunitas.Net) - Di tengah krisis multidimensi yang belum usai melanda kehidupan bangsa dan Negara, pola kepemimpinan transformasional merupakan pilihan penting untuk dijalankan. Namun pilihan ini tidak mudah, mengingat anasir-anasir masa lalu masih belum sepenuhnya hilang, dalam tradisi politik saat ini. Apalagi politik transaksional yang masih menjamur dan memakan korban, masih menjadi pilihan.


Hal itu diungkapkan HR.Muhammad Syafi’I, SH, MHum (foto) baru-baru ini dalam seminar bertajuk "Kepemimpinan Islam menurut tafsir Al Qur’an" di Garuda Plaza, baru-baru ini.
Disebutkan, tradisi kepemimpinan Islam telah mewariskan contoh yang baik yang tidak hanya bertangggung jawab pada rakyat, tapi juga kepada Allah SWT. Transendentalisme tidak hanya bermakna penyatuan pemimpin dengan rakyat, namun menyatukan pemimpin dengan rakyat dengan isyarat dan tuntutan Ilahiah.
“Dukungan dari kepemimpinan transformasional di berbagai level dan tingkatan bisa menjadi motivator dan teladan bagi sebagian masyarakat yang masih menyakini idealisme adalah cara yang terbaik mewujudkan masyarakat yang lebih baik, lebih demokratis sesuai tuntutan ajaran Islam,” katanya.
Terlepas dari itu, lanjutnya, kita akan dihantui kegagalan tidak hanya membuat transisi menjadi tidak menemui arah signifikan, melainkan juga berpotensi mengembalikan kesuraman masa lalu yang justru telah diruntuhkan bersama melalui momen reformasi. Bahkan kegagalan ini menunjukkan bangsa ini akan kembali ke masa lalu.
“Masa dimana peradaban menjadi tabu untuk dipraktekkan. Peradaban yang justru menjadi cita-cita kempimpinan
Islam itu sendiri,”tegasnya.
Ia mengakui kebutuhan akan peran kepemimpinan nasional menjadi penting, mengingat kondisi sosial, politik, ekonomi, hukum dan budaya seringkali tercabik-cabik oleh kepentingan pragmatis.
"Demokrasi prosedural yang mewarnai sistem politik pasca reformasi seringkali menyisakan luka dan duka. Berbagai even demokrasi lokal Pilkada tidak hanya menghasilkan pihak yang menang, tapi juga pihak yang kalah.
Bahkan kemenangan pun tidak selamanya diraih sebagai buah proses demokrasi, tapi hasil transaksi yang melibatan kekuasaan sumber daya dan sumber dana (money politics). Hasil even kontestasi demokrasi pun menyisakan kerugian hingga berujung pertikaian dan konflik. Bahkan pihak yang menang juga tidak jarang berujung di balik jeruji akibat perilaku koruptif dalam proses memperoleh kemenangan,”katanya mengakhiri. (lubis)

Editor : Tohap P.Simamora

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.10508 seconds.