Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Siswa Siluman Diharap Tidak Muncul Lagi Berita

Medan (Suara Komunitas.Net)- Masyarakat diharapkan tidak lagi memaksakan diri memasukkan anak-anaknya ke SMA Negeri di Medan melalui jalan pintas dengan mengeluarkan uang puluhan juta rupiah. Karena saat ini nasib 200-an siswa siluman keberadaaannya tidak jelas dan berada di luar sistem pendidikan resmi.

Siswa siluman itu berada di SMA Negeri 13 dan SMA Negeri 2 Medan. Umumnya para siswa tidak nyaman lagi belajar. Karena mereka harus mencari tempat belajar sendiri serta menyediakan guru dan membayar uang sekolah.
Sejumlah tokoh masyarakat di kota Medan juga bingung kenapa orang tua yang hidupnya pas-pasan bisa melakukan dugaan transaksional agar anaknya bisa diterima di SMA Negeri 13 dan SMA Negeri 2 Medan.
Ketua Yayasan Pendidikan Bina Bersaudara, HM.Akhir Lubis saat diminta komentar tentang riskannya siswa siluman merasa prihatin melihat fenomena dunia pendidikan di Sumut dewasa ini.
Menurut M.Akhir Lubis, sebutan sekolah favorit tidak layak disebutkan. Karena yang namanya SMA Negeri favorit tidak ada. Semua SMA baik negeri maupun swasta, sama semuanya.
“Ini merupakan pembelajaran bagi kita dan diharapkan para orang tua lebih bijaksana dan arif memasukkan anak- anaknya ke SMA Negeri maupun swasta. Karena semuanya sama,” kata seorang pengamat pendidikan di Medan yang enggan ditulis namanya baru-baru ini.
Seperti diketahui, sejak pengalihan pengelolaan SMA dan SMK Negeri kepada Pemprovsu tahun 2017 lalu, dunia pendidikan di Sumut gamang. Ketegasan Pemprovsu melalui Dinas Pendidikan Sumut dan Inspektorat agar para orang tua siswa siluman memindahkan anak-anaknya ke SMA swasta tidak diterima dan para orangtua tetap mempertahankan anak-anaknya di sekolah negeri tersebut.
Masalah siswa siluman di SMA Negeri 2 dan SMA Negeri 13 pada tahun 2017 lalu hangat dibicarakan. Bahkan pihak Kepolisian di Sumut sudah turun tangan, namun tidak ada satu orangtuapun berani mengakui adanya praktek penyuapan untuk jalan pintas.(okta)

Editor : Tohap P.Simamora

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.10883 seconds.