Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

MENGHIDUPI ADAT & TRADISI Berita

Sk-Adakah yang sanggup kita baca dari sebuah adat-tradisi yang sudah berjalan ratusan, bahkan mungkin ribuan tahun selain kehendak kebaikan dari para penyangganya?

Seperti upacara Bebubus Batu di dusun Batu Dulang-Sapit siang tadi misalnya, ritual itu adalah sebentuk upacara persembahan dan do'a untuk memohon keselamatan dan keberkahan agar selama musim tanam hingga panen, segala kehendak baik terkabulkan. Agar segenap jiwa dan raga, dijauhkan dari mala dan mara bahaya.

Buah2 terbaik, sepasang ayam, dan sesaji lainnya ditata rapi di atas dulang, lalu di arak menuju makam desa. Diiringi tetabuhan sepanjang jalan, seorang pengulu membawa canting dupa, memimpin jalannya arak2an menyusuri jalanan desa dan pematang menuju tempat yang paling disakralkan, sebuah kebun kecil yang ditumbuhi pohon-pohon besar diareal persawahan.

Apa yg disebut makam itu bukanlah kuburan. Itu hanyalah tumpukan batu, semacam tugu desa. Sama seperti yang terdapat di gunung padang Cianjur atau ditempat2 lainnya. Tugu seperti itu jg banyak saya jumpai di Flores. Hampir setiap desa memilikinya. orang2 menyebutnya sebagai Tubu Mbusu.

Lantas sejak kapan dan darimana tradisi itu muncul? Bisa jadi itu mmg murni kepercayaan Nusantara yang sudah ada sejak ribuan tahun yllu. Agama2 dari luar datang, hindu, budha, kristen, Islam akhirnya juga ikut mewarnai disetiap ruang episodenya.

Dalam ritual Bebubus Batu siang tadi misalnya, para tetua juga menyebut Nabi Adam dan nabi-nabi lainnya. Juga nama-nama para wali kekasih Allah. Mengirimkan Alfatihah pada setiap sebutannya. Gulungan Lontar yang memuat kidung Tapel Adam dibacakan dalam khidmad sempurna.

Kenapa Adam? Sebab Adam bukan hanya manusia pertama. Adam adalah juga pendiri tradisi. Kita tahu Habil & Qabil yang mempersembahkan Tanaman dan Hewan ternak terbaik sebagai rasa syukur, hingga salah satu diantara mereka akhirnya terjerembab oleh nafsu serakah.

Tapi tradisi, simbol kebaikan terus digemakan dari generasi ke generasi. Untuk mengenang agar tragedi itu tidak terulang, sekaligus memperingati usaha keras, jerih payah, keringat darah nenek moyang yang telah membuka desa, membuka lahan pertanian yang subur dengan menyingkirkan dan menata batu-batu yang bercokol diareal yang sebelumnya hutan liar tersebut. Wallahua'lam.

Adakah yang lebih aduhayy selain menikmati secangkir kopi di tengah himpit gerhana dan dingin di Sembalun? Syruuppuutt saja yuukk.

Foto Speaker Kampung.

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.09402 seconds.