Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Komunitas Sudut Lombok: Ruang Kreasi Anak Muda Berita

Pringgabaya, SK - Sudut Lombok adalah sebuah komunitas yang dibentuk oleh kelompok anak muda sebagai wadah mereka berkumpul untuk menyalurkan bakat atau kreasi yang mereka miliki.

Komunitas Sudut Lombok ini dibentuk berawal dari kegelisahan sekelompok pemuda melihat pemuda lain di desanya yang cenderung melakukan hal-hal yang negatif.

Untuk mengantisipasi hal negatif yang dilakukan pemuda desanya, Andriawan (23) alumni Universitas Bakrie, Jakarta, menginisiasi pembentukan komunitas Sudut Lombok, agar hal negatif yang bisa merusak moral pemuda bisa diminimalisir.

"Komunitas ini saya bentuk sebagai wadah menampung teman-teman pemuda, agar melakukan hal yang bermanfaat bagi diri dan keluarga mereka," ujar Andriawan di rumahnya di Desa Apitaik, Kecamatan Pringgabaya, Lombok Timur, pada (15/1).

Pembentukan komunitas Sudut Lombok ini menurut Andriawan, terinspirasi ketika dia aktif dalam organisasi kemahasisiswaan tempatnya kuliah dulu. Salah satu program organisasi mahasiswa yang pernah dilakukan adalah Forum Malam Minggu (FMM). 

Diceritakan Andriawan, dalam FMM itu, banyak melakukan kegiatan diskusi bersama komunitas tentang tantangan dan permasalahan pemuda Jakarta. Kemudian, lewat diskusi itu mereka mencari solusi pemecahan masalah, agar perbuatan negatif yang mereka lakukan beralih ke hal yang positif (bermanfaat).

Ditambahkan Andriawan, dalam FMM itu, mereka bukan sebatas berkumpul (nongkrong) bersama rekan-rekannya akan tetapi, lebih banyak melakukan diskusi membicarakan banyak hal yang bermanfaat buat komunitas. Sehingga berawal dari pengalaman itulah Andriawan membentuk komunitas pemuda di tanah kelahirannya.

Komunitas Sudut Lombok yang didirikan Andriawan dan kawan-kawanya, bergerak di bidang sosial, pendidikan, ekonomi dan lainnya. Selama ini kata Andriawan, program yang sudah dijalankan dibidang pendidikan adalah mendirikan rumah baca tempat mereka belajar bersama. Di bidang sosial, mereka menyantuni anak yatim, kemudian di bidang ekonomi awal 2018 ini, mereka membangun kafe kecil sekaligus tempat mereka nongkrong di malam Minggu.

Modal dasar usaha mendirikan kafe kecil itu berasal dari swadaya anggota komunitasnya. Laba dari usahanya itu dibagi sama rata antar anggota komunitasnya. Sebagiannya lagi diberikan untuk membantu anak yatim. Demikian disampaikan Andriawan mengakhiri perbincangan. (UCI)

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.08954 seconds.