Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

CRI membawa Angin Segar ke Media Komunitas Speaker Kampung Berita

Lombok Timur, SK - Kedatangan dua orang penggiat media komunitas dari Yogyakarta, Ferdhi Putra dan Idha Saraswati, ke markas media komunitas Speaker Kampung (SK) di Desa Ketangga, Kecamatan Suela, Kabupaten Lombok Timur, NTB, (19/12/2017) membawa angin segar bagi komunitas.
 
Tujuan kedatangan kedua penggiat dari lembaga Combine Resource Institution (CRI) ini memang sudah diagendakan jauh hari sebelumnya. Terhitung sejak 2015 hingga akhir 2017, sudah tiga kali mereka berkunjung ke Speaker Kampung. 
 
Di samping tujuan utamanya belajar dan berbagi pengalaman antarkomunitas, mereka juga membawa buku yang bertajuk "Pergulatan Media Komunitas Ditengah Arus Media Baru". Buku ini merupakan hasil riset mengenai adaptasi radio komunitas terhadap media baru di lima media komunitas di Sumatera Barat, Cirebon, Yogyakarta dan Lombok.
 
Dalam kesempatan tersebut Idha mengatakan Speaker Kampung sudah menjadi daya tarik teman-teman di Jakarta, karena banyak hal menarik dan inovasi yang dilakukan Speaker Kampung dalam bermedia.
 
Jika dulu informasi tentang desa hanya bisa didengar melalui radio komunitas, kini masyarakat sudah banyak beralih ke media online seperti internet.
 
Secara umum masyarakat dewasa ini sudah cukup mudah mengakses berita ataupun informasi melalui jaringan internet.
 
Media komunitas diharapkan terus berkreasi untuk memperkenalkan medianya keluar. Di samping itu, komunitas juga harus punya karya sebagai daya tarik sehingga lewat karya itu bisa menarik para pengunjung untuk melihat hasil karya komunitas kita, baik melalui tulisan, foto maupun video.
 
"Saya salut, Speaker Kampung mempunyai ide yg brilian, punya karya tersendiri seperti Sketsasak," ungkap Idha.
 
Media komunitas juga diharapkan harus bisa menjembatani warga yg ada di luar negeri, seperti buruh migran, dengan keluarga ataupun masyarakat yang ada di dalam negeri. 
 
Idha menjelaskan jika ingin media itu berkembang maka media harus mampu memenuhi kekurangannya. Masing-masing anggota komunitas kadang mempunyai skill yang berbeda. Perbedaan skill itu yang harus bisa disinergikan untuk menutupi kekurangan anggota lainnya.
 
Hal senada juga dikatakan Ferdhi, media komunitas harus punya usaha sendiri yang bisa disinergikan. Speaker Kampung juga bisa saja dijadikan sebagai media promosi usaha anggota komunitas.
 
"Media komunitas harus punya perencanaan yang lebih matang soal kemandirian," terangnya.
 
Yang perlu diperhatikan, kata Ferdhi, menjelang pilkada serentak kepentingan politik harus dipilah-pilah agar tidak menjadi corong satu golongan. "Media komunitas itu bukan milik golongan tapi milik warga komunitas," tegasnya.
 
Tidak masalah jika anggota komunitas ikut berpolitik karena itu hak asasi. Tapi media komunitas tetap milik warga. Jika ada talkshow, misalnya, semua calon pemimpin harus diundang dan berikan ruang bagi warga untuk menyampaikan aspirasinya.
 
"Jikapun nanti mereka diundang debat maka pertanyaannya harus seputar komunitas dan media harus tetap independen," timpal Idha.
 
Pada kesempatan FGD itu, Ferdhi dan Idha mengajak komunitas berdiskusi tentang kemandirian ekonomi. Bagaimana cara mengembangkan media komunitas lewat usaha yang mereka tekuni.
 
Jika berbicara potensi sebenarnya, menurut Idha, orang desa lebih bisa mengembangkan potensi yang ada di desanya. 
 
Untuk mengembangkan potensi desa, komunitas dianjurkan jangan terlalu mengandalkan pemerintah karena pemerintah. Namun, bagaimana kita merangkul pemuda desa, mengajak mereka fokus mengembangkan potensi desa untuk kepentingan warga.
 
Melalui media Speaker Kampung, potensi ekonomi di desa perlu diangkat lewat tulisan, agar pemerintah bisa membacanya. Tulisan itu dirasa perlu disampaikan sesuai kebutuhan komunitas. Itulah sebenarnya yang harus dikembangkan untuk menarik kepedulian pemerintah. Bukan saja pemerintah tapi, kemungkinan juga dari lembaga-lembaga sosial lainnya untuk membantu komunitas berkembang. (Anggar)

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.08884 seconds.