Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

GUNUNG KAYANGAN MINIATUR BOROBUDUR LOMBOK UTARA Sastra

Oleh : Eko Sekiadim

Kabupaten Lombok Utara (KLU) dengan semboyan Tioq Tata Tunaq banyak memiliki tradisi lama yang masih kuat dipegang masyarakat penganutnya hingga saat ini. Montong Gedeng yang kerap dijadikan sebagai lokasi tujuan pelaksanaan ritual adat oleh masyarakat penganutnya pada jaman dulu, kini keadaannya banyak ditumbuhi tanaman liar yang mengering. Meski sekilas tak ada yang tampak istimewa, keberadaannya menjadi saksi bisu perjalanan sejarah di timur bumi Tioq Tata Tunaq.

Nilai-nilai peninggalan nenek moyang berupa ritual adat masih berpengaruh kuat sebagai pola hidup masyarakatnya. Seperti ritual buka tanah sebelum mulai membuka areal untuk pola tanam. Ritual adat ini diwariskan nenek moyang masyarakat wet (gontoran) Sesait Kecamatan Kayangan Kabupaten Lombok Utara.

Sebelum memulai pola tanam masyarakat wet (gontoran) Sesait selalu menggelar perayaan adat yang jatuh pada tiap bulan lima setiap tahun. Perayaan rutin ini diperingati secara turun-temurun oleh masyarakat adat wet (gontoran) Sesait dan dikenal dengan Perayaan Adat Taiq Daya dan Taiq Lauq.

Taiq Daya dilakukan masyarakat komunitas adat Santong Asli. Prosesi ritualnya dilakukan dengan naik ke Bale Penginjakan di Pawang Semboya yang terletak di lereng utara gunung Rinjani. Waktu pelaksanaannya setelah pagelaran ritual Taiq Lauq. Sementara Taiq Lauq dilaksanakan mengenang sejarah nenek moyang masyarakat adat Sesait yang kala itu naik ke Montong Gedeng untuk melaksanakan ritualnya. Montong Gedeng itu sendiri tidak lain adalah Gunung Kayangan saat ini, terletak sekitar 200 meter ke arah timur Kampung Cangkring Dusun Sidutan Desa Kayangan Kecamatan Kayangan Kabupaten Lombok Utara.

Menurut tokoh adat Wet Sesait, Djekat, menuturkan berdasarkan sejarah perayaan adat Taeq Daya maupun Taeq Lauq, asal-muasal perayaan ini berawal dari kebiasaan orang tua Sesait lama yang dikenal dengan sebutan Tau Lokaq Empat, yang terdiri dari Penghulu, Pemusungan, Mangkubumi, dan Jintaka.

Dikatakan, kebiasaan para sesepuh Sesait lama kala itu, sebelum melaksanakan suatu kegiatan yang berlaku menyeluruh bagi masyarakatnya, mereka selalu menggelar sangkep atau musyawarah di Bale Adat yang berada di lereng selatan Montong Gedeng. Hal-hal yang biasanya dibicarakan adalah terkait waktu dimulainya membuka tanah dan waktu dimulainya musim pola tanam. Itulah sebabnya, sebut Djekat, warga Sesait lama tidak akan berani memulai pelaksanaan pola tanam sebelum Tau Lokaq Empat selesai menggelar rapat tersebut. Pasalnya, mereka patuh dan taat pada aturan adat yang diwariskan secara turun-temurun. “Jadi, orang Sesait lama sejak jaman dulu sudah mengenal yang namanya aturan pola tanam,” kata Djekat.

Djekat menyebut, kegiatan ritual adat yang digelar setiap bulan lima tiap tahun tersebut adalah sebagai bentuk revitalisasi ritual adat yang memang pernah dilakukan oleh masyarakat Sesait lama pada jamannya. Namun semenjak tahun 1966 ritual adat ini hilang atau praktis tidak dilakukan oleh warga. Pasalnya, pada saat itu terjadi perombakan ajaran Islam dari wettu telu ke ajaran Islam waktu lima. Karena pada saat itu penduduk Sesait lama dan sekitarnya masih menganut Islam Wettu Telu. “Jadi sudah 50 tahun silam ritual Taiq Lauq tersebut tidak dilakukan lagi oleh masyarakat Sesait lama,”jelasnya.

Pada zaman dahulu dibawah tahun 1965, Montong Gedeng atau gunung Khayangan ramai di kunjungi oleh para peminat dan penganut acara pemujaan kepada para Dewa yang bersemayam di tempat itu. Menurut kepercayaan masyarakat Sesait Lama, bahwa di gunung Khayangan tersebut di yakini sebagai tempat petilasan Panji Mas Kolo. Itulah sebabnya, setiap tahun sebelum tahun 1965 kebawah, tempat itu ramai di kunjungi oleh masyarakat penganutnya untuk Ngaturang Ulak Kaya.

Pada saat acara Ngaturang Ulak Kaya (terkenal dengan sebutan “Taeq Lauq”) itu, masyarakat penganutnya membawa makanan, sesaji dan Praja Taeq Lauq (para gadis yang di rias layaknya pengantin) sambil membunyikan tabuh-tabuhan atau kesenian tradisional rakyat yang jumlahnya tidak kurang dari 10 hingga 15 grup.

Praktis sejak tahun 1966 acara pemujaan di Gunung Khayangan itu sudah tidak kedengaran lagi, tinggal Gunung Khyangan yang masih tetap utuh tegak berdiri yang merupakan peninggalan bersejarah bagi Desa Kayangan, sehingga namanya diabadikan sebagai lambang dan nama Desa Kayangan saat ini.

Sehingga perayaan adat yang dilakukan masyarakat Sesait - Kayangan ke Montong Gedeng itu adalah untuk mengajak masyarakat setempat merevitalisasi kembali ritual adat yang sejak puluhan tahun silam tidak pernah lagi dilakukan oleh masyarakat penganutnya (Sesait lama). “Setidak-tidaknya itu sebagai bentuk upaya generasi penerus untuk menghargai apa yang telah dan pernah dilakukan oleh nenek moyang masyarakat Sesait lama pada jamannya dulu. Spirit atau semangatnya itulah yang perlu kita revitalisasi oleh kita sebagai generasi penerusnya,”tandas Djekat.

Sebagai destinasi daerah tujuan wisata, maka Montong Gedeng yang dikenal sebagai Gunung Kayangan saat ini, kedepannya akan ditata dan dibangun menyerupai sebuah candi yang mirip dengan Candi Borobudur di Jawa Tengah. Sehingga tidak heran, oleh sosok tokoh adat Sesait yang juga politisi di DPRD KLU ini memiliki impian besar agar Montong Gedeng (Gunung Kayangan) tersebut, bisa kembali diangkat. Djekat pun berhajat ingin menata Montong Gedeng agar ke depannya lebih menarik dan sangat potensial untuk dikembangkan.

”Saya menganggap dan berkeinginan besar agar kedepannya kawasan Montong Gedeng ini dapat dijadikan sebagai Miniatur Borobudurnya Kabupaten Lombok Utara. Karena memiliki nilai historis yang tinggi, khususnya bagi warga Kayangan dan sekitarnya,” tandas Djekat.(#)
 

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.10253 seconds.