Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Menyumbang untuk Kebaikan, Ladang Pahala bagi Semua Pendapat

Sedih bercampur miris. Kita masih saja mempersoalkan tentang kebaikan, tentang kebersamaan, tentang sesuatu yang seharusnya disyukuri karena kita masih bisa berkontribusi aktif di awal tahun baru islam. Ini tentang keikhlasan, meski nilai keikhlasan tak bisa diukur dengan apapun juga. Dia lahir dari hati. Bukankah mengajak bijak demi kebajikan adalah sesuatu yang mulia di hadapan Tuhan?

Ada ungkapan yang mengatakan, menyumbang untuk kebaikan seperti kita membayar pajak. Tak perlu dikeluhkan, karena kebaikan tak pantas digugat. Perayaan tahun baru islam yang diisi dengan berbagai kegiatan bernuansa islami seperti pawai hijeraturrasul, tabligh dan zikir akbar, adalah kebaikan untuk umat. Lewat kegiatan itu, kita diajak untuk memaknai tahun baru islam secara benar, dengan jalan mencintai Allah dan RasulNya.

Ketika kita diminta untuk turut berpartisipasi aktif lewat sumbangsih tanpa ada paksaan, lalu kita nyinyir, benci, dan seolah-olah ajakan kebaikan itu tidak menjadi baik, malah kesannya buruk, sungguh sangat disayangkan. Ikhlas dan rela, dua sifat yang tak bisa diukur kedalamannya. Dia bergerak pada ruang di mana tak seorang pun bisa menemuinya. Hanya kita dan Tuhan yang tahu letaknya.

Ketika kita diajak menyumbang secara ikhlas demi kebaikan bersama, maka ikuti saja kata hati. Mau nyumbang, silakan. Tidak mau, juga bukan persoalan. Karena kata hati adalah raja di kerajaan hatimu. Ayo kawan, hilangkan syak wasangka. Kebaikan itu tak bisa direkayasa, apalagi digugat. Dia nyata adanya, dan mengalir menuju surga. Hanya orang-orang yang buta hatinya yang tak ingin ke surga.

Tanamkan benih kebaikan, biar menjadi ladang pahala bagi kita semua. Jangan karena kecurigaan semata, menghanguskan amal kebaikan kita selama ini. Sekali lagi, jadilah raja untuk kebaikan kita sendiri. Di mana hanya dirimu yang bisa memerintahkan ke mana arah yang kau tuju, agar vibrasi kebaikan bisa menyebar dan tak berhenti sampai bumi betul-betul berhenti berputar. (Lukman Hamarong)

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.6768 seconds.