Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Saatnya Perempuan Bicara, Bukan Dibicarakan Pendapat

Oleh Dewi Ratna dan Rusli

Selama ini perempuan selalu diidentikkan dengan kata dipimpin, terutama dalam rumah tangga. Akan tetapi dalam prosesnya, perempuan juga punya andil besar dalam kepemimpinan.

Bagaimanapun hebatnya laki-laki tidak pernah luput dari peran perempuan. Lelaki hebat dan sukses didalamnya ada perempuan hebat bersamanya dan ini tidak bisa dimungkiri.

Kata pemimpin tidak asing lagi di semua kalangan, apalagi di kalangan perempuan. Dan, bicara pemimpin tentunya kita menginginkan perempuan yang bisa menyerap aspirasi dan keinginan kita. Bisa menjaga kehormatan, kesejahteraan, dan memberikan rasa nyaman bagi orang-orang yang dipimpinnya.

Seorang pemimpin yang bijak bisa memberi aspirasi bagi orang yang ada disekitarnya, bukan malah membongkar aib masyarakatnya sendiri.

Kepemimpinan yang bagus itu akan membawa kedamaian, tetapi sebaliknya, akan membawa perlawanan jika pemimpin itu tidak bisa menghargai tetapi selalu ingin dihargai. Belajarlah menghargai jikalau ingin dihargai. Jangan melihat posisi di kala kita menjalankan kepemimpinan, tetapi lihatlah makna yang terkandung dalam kata "pemimpin" itu.

Pemimpin adalah abdi dari orang yang dipimpin, bukan menjadikan pemimpin sebagai alat untuk menaklukkan orang-orang yang dipimpinnya.

Memang manusia itu tidak ada yang sempurna, tetapi ketidaksempurnaan itulah yang harus dimengerti dan dipelajari oleh seorang pemimpin. Bagaimana bisa memimpin orang lain jika dirinya saja belum paham mengenai kepemimpinan.

Seorang pemimpin bukan untuk ditakuti, tetapi sebagai tempat untuk menuangkan aspirasi dan inovasi untuk kesejahteraan warga yang dipimpin.

Jangan bangga sebagai pemimpin jika orang yang dipimpin merasa takut, tetapi banggalah sebagai pemimpin dikala orang yang dipimpin merasa bersahabat dan merasa bagian dari diri kita.

Akan tetapi seorang pemimpin hanya memikirkan bagaimana caranya supaya kepemimpinannya berlangsung lama, tetapi mereka lupa menaruh benih pengawet dalam kepemimpinannya.

Sehingga tidak menutup kemungkinan pemimpin itu memakai jalan hitam untuk menarik hati masyarakat yang akan mendukungnya. Berbagai cara dilakukan, tidak peduli apakah cara itu salah atau benar. Karena di dalamnya, hatinya sudah tertanam jiwa iblis. Dan inilah iblis nyata yang bermahkotakan kesombongan dan kegilaan.

Kalau sudah begini sifat dan kelakuan dari pemimpin, apakah kita akan memilihnya? Tentu saja tidak! Jikalau kita memilih pemimpin seperti itu maka, kita termasuk orang yang bodoh. Lebih baik memilih orang yang bodoh tapi pintar bergaul, tidak suka menjelekkan masyarakat dan rekan kerjanya daripada pintar tapi sombong.

Dan mari di ajang pemilu mendatang, kita gunakan hak pilih kita dengan sebaik-baiknya. Mari dukung calon pemimpin yang benar-benar mendengar suara akar rumput serta aspirasi masyarakat secara keseluruhan tanpa melihat suku, agama, ras dan antargolongan (SARA).

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.09174 seconds.