Suara Komunitas
Saatnya warga bersuara, tidak hanya disuarakan

Memindahkan “Amarah” Bendera Terbalik Pendapat

Tiga tahun lalu, tepatnya 2014 silam, gelaran akbar sepak bola Piala Dunia 2014 di Brasil, meghadirkan sebuah cerita pelik. Jerman yang hadir dengan tenaga muda penuh talenta harus menerima kenyataan pahit. Bendera hitam-merah-emas milik Jerman dipasang terbalik menjadi emas-merah-hitam di lolasi tempat timnas Jerman latihan, di Campo Bahia, Salvador, Brasil. Bendera Jerman terbalik diapit bendera tuan rumah Brasil dan bendera FIFA. Bukannya mengecam, pihak media Jerman yang ikut terbang ke Brasil malah menertawakan kejadian tersebut. "Lucu! Kesalahan kecil pada bendera itu langsung diperbaiki," tulis Bild seperti yang dikutip viva.co.id yang saya kutip ulang kembali.

Saya kira ini upaya media Jerman untuk tidak membesar-besarkan kejadian tersebut. Meski tidak menimbulkan gejolak di Jerman akibat kejadian itu, tapi lihatlah bagaimana pemain Jerman melakoni laga demi laga di turnamen akbar tersebut. Amarah bendera terbalik yang seharusnya tumpah saat kejadian itu, akhirnya dialihkan di laga sesungguhnya. Satu per satu tim lawan disikat, hingga mencapai puncaknya di laga kontra Brasil. Amarah pemain Jerman pun tumpah di laga itu. Brasil dibantai, dipermak dan dibuat malu dengan skor 1-7 di laga semifinal. “Pembantaian” yang tentunya tidak akan pernah dilupakan rakyat Brasil sebagai sebuah catatan hitam sepakbola Brasil.

Kasus kurang lebih sama terjadi di ajang multi cabang SEA Games Malaysia. Indonesia menjadi korban keteledoran panitia lokal. Pada Buku Panduan SEA Games terlihat bendera Indonesia dipasang terbalik. Saya yakin, dengan mengedepankan prasangka baik, itu tidak-lah disengaja. Bendera yang dipasang langsung saja bisa terbalik (kasus Jerman), apalagi bendera yang dipasang lewat sentuhan teknologi. Atas kejadian ini, rakyat Indonesia pun marah. Demonstrasi bak mata rantai yang tak pernah putus, hingga permohonan maaf secara resmi dari pihak Malaysia turun. Akhirnya dunia nyata kembali normal setelah permintaan maaf tersebut, tapi di dunia maya (medsos) hal itu tidak terjadi. Warganet belum bisa move on dibuatnya.

Mereka terus menyimpan nyinyir, mengolok-olok, serta sederet cacian dan makian tersusun rapi, untuk kemudian siap dimuntahkan. Negara tetangga itu ibarat musuh yang harus “dibumihanguskan” di dunia maya. Bagi saya, tak elok untuk terus memendam amarah gegara kasus bendera terbalik. Jangan recoki persiapan Garuda Muda kita. Biarkan mereka fokus pada partai kontra Malaysia. Mereka butuh doa, bukan sumpah serapah. Indonesia harus bisa seperti Jerman yang mampu memindahkan amarah di laga sesungguhnya. Jika Jerman membantai tuan rumah Brasil dengan skor 1-7, maka Indonesia harus bisa seperti itu, mengalahkan Malaysia. Tak perlu 1-7, cukup 0-1 untuk menggapai asa emas di SEA Games.

Meski laga ini bisa dikategorikan sebagai laga el clasico versi Asia Tenggara, mengingat rentetan sejarah panjang kedua negara bertetangga yang dipenuhi rivalitas tingkat tinggi, baik di sektor politik, hankam, seni dan budaya, terlebih di sektor olahraga, namun pelatih Indonesia asal Spanyol, Luis Milla, menganggap laga ini adalah biasa saja, meski sejarah tak bisa bohong jikalau saban ketemu kedua negara acapkali dibumbui rivalitas. “Lawan Malaysia tak ada yang spesial, saya cuma katakan nikmati permainan dan buat Indonesia bangga,” begitu Milla berucap yang saya kutip dari pojoksulsel. Ya, nikmati permainan dan buat kita bangga. Indonesia harus mendukung lewat doa, bukan lewat nyinyiran kepada “tetangga kita yang gaduh itu” (Lukman Hamarong)

Komentar (0)

Belum ada komentar pada tulisan ini. Silakan jadi komentator pertama dengan mengisikan formulir disamping
Page generated in 0.0931 seconds.